Tak Pernah Menyimpan Dendam & Puisi Lainnya
Ia kembali menggosokkan badannya ke kakiku / seolah ringan tanganku bukan ancaman / dan dengkuran yang tak menuntut apa-apa
Rubrik untuk suara segala jenis Puisi

Ia kembali menggosokkan badannya ke kakiku / seolah ringan tanganku bukan ancaman / dan dengkuran yang tak menuntut apa-apa

tempat piknik rusak / karpetnya basah / semua berubah dingin / kaca spion retak lalu luruh / memudarkan huruf-huruf di buku / sejarah tentang dunia abu-abu

negara tercipta dari air mata, darah dan ketidak adilan

Bila kau ingin memberi mawar / Berilah ketika kakiku menapak tanah

sepanjang mata memandang / riuh suara kayu mengitari laut dan tanah itu / tapi apa yang bisa dikata / tak sesiapapun tahu—mau mengaku

ruang persidangan ramai lawakan / kemarin aku bertamasya ke gedung pertunjukan

Jika gelarku berkilau, / itu karena cahaya dari wajahmu. / Jika namaku disebut dengan hormat, / itu karena engkau lebih dulu / menghormati perjuanganku, / bahkan saat dunia belum tahu apa-apa.

Umai duduk di bangku ulin tua / beroleskan bedak kuning pada wajahnya / sedang mengerjakan manik-manik …

Kemudian hujan itu mereda / Namun rindu masih tergenang

Angin itu membawa aroma musim gugur, aroma daun busuk yang menyisakan pilu, seolah menjawab bahwa cinta lahir dari kehampaan, dari lubang-lubang hati yang ditinggalkan badai masa lalu.